Hari itu, anak-anak di Kampung Aspen belajar berkebun. Mama Kety dan Mama Ana membimbing mereka merendam dan menyemai biji-biji kacang hijau dalam mangkuk. Esok harinya biji kacang hijau telah berganti wujud menjadi toge (tauge). Ah itu sih biasa, anak-anak setiap hari melihat mamanya memproduksi toge di rumah. Tapi serentak mereka bertanya-tanya ketika gelas-gelas plastik bekas kemasan air mineral dibagikan ke mereka. Mama Kety dan Mama Ana kemudian memandu mereka mengisi gelas plastik itu dengan tanah. Satu persatu jemari anak-anak memasukkan toge dalam gelas. Esoknya, setiap sebelum belajar, mereka menyiram air ke gelas itu dengan tangan kecil mereka. Daun-daun tumbuh satu persatu, anak-anak mengamati dengan antusias. Seminggu kemudian, daun-daun tumbuh rimbun di dalam gelas mereka, batangnya pun makin tinggi. Inilah toge yang telah kita tanam, anak-anak bersorak gembira. Beberapa polibag telah disiapkan untuk memindahkan pohon kecil toge. Lalu mereka bernyanyi lagu ambil bibit toge, kita tanam sama-sama....
“Mama bapa..., kita sudah belajar toge di sekolah, suatu saat nanti kita akan tanam pohon agar halaman belakang rumah kita tidak longsor lagi!”.
Tampilkan postingan dengan label Kabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar. Tampilkan semua postingan
9.07.2010
Tak Ada Sekolah Murah
Mama Yohana merasa sedih karena hari ini sekali lagi anaknya tidak bisa masuk sekolah TK. Ia sudah berusaha keras menyisihkan setiap uang pemberian suaminya yang seorang buruh bangunan, namun tetap saja tak cukup untuk membayar biaya sekolah anaknya. TK negeri memintanya membayar Rp 800 ribu untuk biaya pendaftaran, dan Rp 50 ribu untuk biaya bulanan. Sementara TK swasta mematok biaya pendaftaran Rp 2 juta hingga 3 juta dan biaya bulanan rata-rata Rp 100 ribu . Mama Yohana kecewa, dan memutuskan lebih baik anak-anak kecilnya tinggal di rumah saja sambil menunggu cukup usia untuk masuk SD. Ia tahu biaya masuk SD juga tak sedikit, tapi ia berpikir masih banyak waktu untuk mengumpulkan uang sampai tahun depan!
9.04.2010
Bukan Sekedar Main-main Lho
Toki-toki papan jelek, untuk apa? Hei anak-anak bantu angkat papan ya. Siapa yang biasa toki-toki papan di rumah? Bapak! Tapi mari kita lihat, mama juga bisa toki papan kan? Kita mau buat jembatan kecil untuk anak-anak belajar jalan di atas titian dengan mata tertutup. Awas, di bawah itu air sungai yang dingin. Haha.. Itu hanya tipu-tipu, tapi coba bayangkan di bawah itu ada hewan-hewan sungai. Hmm, lihat satu persatu mereka berjingkat menyusuri papan dengan mata ditutup kain, jaga diri agar tidak jatuh ke sungai. Gembira sekali! Mama-mama ikut berteriak jadi suporter.
Tapi itu bukan sekedar bermain lho, Anak-anak sedang belajar imajinasi, konsentrasi, keseimbangan dan aktivasi otak tengah. Mama-mama mulai mengerti bahwa main puzzle juga bermanfaat untuk melatih otak kiri anak, sehingga nantinya anak-anak lancer bealajr matematika, melakukan analisa, dan ambil keputusan. Jadi ayo ayo kita bermain sambil belajar!
Tapi itu bukan sekedar bermain lho, Anak-anak sedang belajar imajinasi, konsentrasi, keseimbangan dan aktivasi otak tengah. Mama-mama mulai mengerti bahwa main puzzle juga bermanfaat untuk melatih otak kiri anak, sehingga nantinya anak-anak lancer bealajr matematika, melakukan analisa, dan ambil keputusan. Jadi ayo ayo kita bermain sambil belajar!
Langganan:
Postingan (Atom)